6 Salah Kaprah Tentang Vaksin MR

Rabu, 5 Desember 2018 | 11:43 WIB

Tahun lalu, pemerintah telah menggelar vaksinasi MR untuk anak-anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di seluruh Pulau Jawa. Kini giliran Pulau Sumatera, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Bali, Maluku dan Papua. Anak-anak di daerah tersebut bisa mendapatkan vaksin MR di bulan Agustus hingga September ini.

 
Vaksin MR sangat penting untuk diberikan kepada anak-anak usia 9 bulan hingga 15 tahun dan direkomendasikan bagi perempuan dewasa yang akan hamil. Vaksin ini dapat mencegah penyakit campak dan rubella. Sayangnya, beberapa masyarakat masih enggan melakukan vaksin ini karena kuatir akan keamanannya dan efek sampingnya yang dikabarkan dapat menyebabkan anak menjadi autis dan lumpuh.
 
Berikut ini Parenting Indonesia merangkum salah kaprah tentang vaksin MR yang berkembang di masyarakat:
 

  • “Anak saya demam dan muncul bercak merah di tubuhnya. Itu wajar saja dan justru menjadi pertanda bahwa demamnya akan reda. Saya tidak perlu khawatir tentang campak atau rubella.”

Perlu diketahui bahwa salah satu gejala campak dan rubella adalah demam tinggi dan rawan kejang serta bercak kemerahan. Gejala campak lainnya sering diiringi dengan batuk, pilek dan anak tampak lesu. Gejala bisa berlanjut dengan mata berair dan berubah kemerahan serta bibir pecah-pecah. Sementara pada rubella, akan ada pembesaran kelenjar getah bening yang dapat dilihat dari bagian leher belakang yang agak menonjol
 
Memang benar bahwa pada penyakit campak, setelah demam turun, bercak akan berubah warna dan menghilang selama beberapa hari kemudian. Sedangkan pada rubella, biasanya demam akan turun setelah tiga hari dan tidak menimbulkan bercak.
Namun, penyakit campak ini tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan komplikasi pada paru dan otak.
 

  • “Anak saya sudah vaksin campak, jadi tidak perlu vaksin MR lagi.”

Tetap perlu. Vaksin campak hanya melindungi dari virus campak. Sedangkan vaksin MR akan melindungi anak dari virus measles (campak) dan rubella (campak Jerman).
 

  • Anak saya tidak butuh vaksin MR karena di lingkungan kami tidak ada yang terkena campak atau rubella. Jadi kami tak perlu khawatir tertular.”

Campak dan rubella adalah penyakit yang mudah ditularkan lewat udara melalui bersin atau batuk. Penyakit ini sangat berpotensi menjadi wabah apabila cakupan imunisasi rendah dan kekebalan kelompok/herd immunity tidak terbentuk. Ketika seseorang terkena campak, 90% orang yang berinteraksi erat dengan penderita dapat tertular jika mereka belum kebal terhadap campak. Seseorang dapat kebal jika telah diimunisasi.
 

  • Vaksin MR tidak aman dan dapat menyebabkan autisme dan  kelumpuhan.”

Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa vaksin MR yang digunakan di Indonesia memiliki izin edar resmi dari BPOM dan disetujui oleh WHO. Vaksin ini pun sudah digunakan di lebih dari 141 negara di dunia. Jadi, dapat dipastikan keamanan dari vaksin ini. Sampai saat ini, belum ditemukan bukti medis yang menunjukkan bahwa vaksin MR dapat menyebabkan anak menjadi autis dan lumpuh. Adapun efek samping yang umum muncul setelah vaksin MR adalah gejala ringan seperti demam, ruam, atau nyeri di bagian bekas suntikan. Reaksi ini akan hilang dalam waktu 3 hari.
 

  • “Saya tidak perlu vaksin MR karena vaksin ini hanya ditujukan untuk anak-anak.’

Orang dewasa sebaiknya tetap disarankan untuk mendapatkan vaksin ini. Campak dan rubella memang banyak menyerang anak-anak, namun juga harus diwaspadai apabila penyakit ini menyerang orang dewasa karena gejalanya akan lebih berat, terutama pada perempuan dewasa yang sedang hamil, karena memiliki dampak yang buruk bagi kehamilan dan bayinya.
 

  • “Saya sudah punya satu anak yang sejauh ini belum pernah terkena campak dan rubella, ia juga sudah mendapat vaksin MR. Jadi, saya tidak perlu mendapatkan vaksin MR juga walaupun berencana untuk hamil kedua.”

Vaksin MR sangat disarankan bagi perempuan dewasa yang berencana hamil. Ibu hamil yang terserang rubella sangat rentan mengalami komplikasi. Jika ibu terserang virus di trimester pertama kehamilannya, risiko keguguran akan meningkat. Apabila virus tersebut diderita di trimester kedua, bayi yang dikandung berpotensi mendapatkan kelainan yang disebut dengan congenital rubella syndrome. Bayi yang lahir dari ibu yang menderita rubella saat hamil bisa jadi buta, tuli, memiliki ukuran kepala yang kecil, dan bahkan cacat mental. Berdasarkan rilis Kementerian Kesehatan RI tahun 2016, diperkirakan ada 2767 kasus bayi lahir dengan congenital rubella syndrome.
 

 

Sumber : parenting.co.id

Bagikan ke :